Jumat, 26 November 2010

Urgensi Pembersihan Nama Baik

Ada apa gerangan pada tanggal 12 Mei 2009? Pertanyaan itulah yang kiranya muncul ketika kita membaca spanduk yang terpajang di pagar pembatas Monumen Mandala kota Makassar. Spanduk yang menumbuhkan rasa penasaran mengenai sebuah hari misterius di bulan kelima itu.

Sangat sedikit yang mengetahui bahwa 12 Mei merupakan hari keperawatan sedunia. Bahkan mahasiswa keperawatan dan perawat sendiripun masih banyak yang tidak mengetahui keberadaan hari itu. Padahal tanggal tersebut menjadi saksi bahwa keberadaan kita diakui oleh masyarakat dunia.

Lantas apa yang kita lakukan untuk memperingati hari penting itu? Membuat peringatan besar-besaran? Atau malah tidak melakukan apa-apa? Tidak penting apa yang akan kita lakukan untuk menyambut hari tersebut atau apa yang akan kita lakukan pada hari tersebut. Yang paling penting adalah bagaimana kita berjuang untuk profesi kita tiap hari bahkan tiap detiknya. Sadarilah bahwa masih sedikit yang mengenal profesi perawat!

Ketika seseorang menanyakan pendapat Anda tentang seorang perawat, apa yang akan Anda katakan? Jika Anda adalah seorang perawat, atau minimal seorang mahasiswa keperawatan, Anda akan langsung berargumen bahwa perawat adalah orang yang melakukan asuhan keperawatan secara holistik kepada pasien. Atau, perawat adalah mitra dokter dalam mewujudkan kesembuhan pasien.

Tapi bagaimana jika orang lain yang tidak mengenal profesi perawat sama sekali berargumen tentang seorang perawat? Apakah mereka akan menyampaikan pendapat yang sama atau justru sebaliknya?

Tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak orang yang beranggapan bahwa perawat adalah pembantu dokter. Segala tindak-tanduknya ke pasien berdasarkan perintah dokter. Pendapat seperti itu masih wajar bila terlontar dari mereka yang sering berada di rumah sakit, entah untuk menjenguk sanak saudara ataukah sekedar check up. Sebab memang seperti itulah kenyataan yang mereka lihat di lapangan. Perawat masih saja berada di ujung telunjuk dokter.

Tapi bagaimana pendapat Anda jika ada seseorang yang berkata bahwa perawat itu seksi? Tentunya dalam arti seksi yang sebenarnya. Saya sendiri merasa syok ketika suatu hari chatting dengan seseorang dari Eropa dan mengetahui bahwa saya adalah seorang mahasiswa keperawatan.

”So, you are sexy.”

Kira-kira seperti itulah yang dia sampaikan saat itu. Saya yakin seksi yang dia maksud adalah pakaian yang serba minim. Kebanyakan orang berpendapat seperti itu karena mereka melihat figur ’perawat’ dari sumber yang kurang tepat. Apalagi jika mereka melihatnya di televisi. Sangat disayangkan memang karena figur seorang perawat yang selalu ditampilkan di televisi adalah seorang perempuan dengan rok super pendek nan ketat dan baju dengan kancing atas yang sengaja tidak terpasang sehingga menampakkan sebagian isinya. Naudzubillah.

Tidak hanya sebatas pakaian seksi yang menggambarkan figur seorang perawat yang muncul di sinetron ataupun film. Sosok yang bisa diajak kerjasama untuk menciderai atau bahkan menghabisi nyawa pasien demi kepentingan orang tertentu bisa menggambarkan sosok mereka. Sangat mengerikan sekaligus kejam. Pernahkah seorang sutradara memikirkan nasib perawat ke depannya dengan menggambarkan sosok perawat seperti itu? Masih mending kalau yang menontonnya adalah orang yang kritis. Tapi bagaimana dengan anak kecil yang belum mengerti apa-apa?

Hal di atas baru sebatas identitas perawat. Bagaimana dengan kinerjanya?

Sering kita mendengar orang mengeluhkan pelayanan rumah sakit karena perawatnya yang kurang memperhatikan pasien. Tapi pernahkah kita membayangkan berapa pasien dengan kebutuhan yang banyak dan berbeda yang perawat hadapi tiap harinya? Minimnya tenaga perawat yang tersedia di rumah sakit berpengaruh besar terhadap kinerja perawat. Ingat!!! Perawat juga manusia, bukan robot penyembuh.

Kondisi seperti itulah yang terkadang dialami seorang perawat sehingga mengalami tekanan jiwa yang akhirnya berdampak pada sikap dan tingkah lakunya. Akhirnya bertambah lagi gambaran diri seorang perawat. Judes dan jutek.

Akan tetapi ketika mereka memiliki kinerja yang sangat cemerlang, orang malah melihat mereka sebagai sosok lain. Sebagai contoh ketika melakukan observasi di rumah sakit yang merupakan bagian dari mata kuliah keperawatan, sering kali keluarga pasien berterima kasih kepada perawat yang telah membatu mereka dengan sebutan salah.

”Terima kasih, Dok”

Entah harus berbangga diri atau malah sebaliknya mendapati kenyataan seperti itu. Pantas saja sosok seorang dokter memiliki posisi yang jauh lebih tinggi dari perawat di mata pasien dan keluarganya.

Melihat kenyataan seperti itu, jangan sampai menjadikan kita pesimis dan kurang percaya diri menjadi mahasiswa keperawatan apalagi seorang perawat kelak. Kita harusnya berusaha agar stigma tentang seorang perawat bisa lebih baik lagi ke depannya. Perjuangan berat dan keras harus bermula saat ini juga. Ingat 3 hal yang harus dimiliki oleh seorang perawat.

Pertama adalah knowledge. Selagi masih di bangku perkuliahan, mari kita tingkatkan kemampuan akademik dengan banyak membaca dan diskusi. Hal itu akan menjadikan kita memiliki pegangan dalam memberikan asuhan keperawatan. Kalau perlu raih tingkat pendidikan setinggi-tingginya. Kedua adalah skill. Dengan mengikuti pelatihan-pelatihan atau bahkan mengikuti kegiatan yang banyak mengasah keterampilan dapat menjadikan kita ahli dalam melakukan tindakan keperawatan. Dan terakhir, yang tidak kalah pentingnya adalah attitute. Perawat adalah alat utama dalam proses keperawatan. Segala yang melekat pada dirinya, dari ujung kaki hingga ujung kepala, dari luar maupun dalam, hendaknya bersifat terapeutik. Sehingga sebuah senyum darinya pun mampu mengurangi sedikit penderitaan pasien.

Dengan memiliki ketiga kunci tersebut, nama baik perawat bisa kembali suci di mata masyarakat. Jangan sampai kita hanya bisa membersihkan luka pasien tapi nama sendiri tidak bisa. Tanamkan dalam hati bahwa profesi kita adalah profesi penolong yang tanpa diminta akan menawarkan sendiri bantuannya dengan ikhlas dan tanpa pamrih kepada siapapun. Peran sebagai mitra dokter pun akan melekat dengan sendirinya.

(Juara I dalam lomba essay Penulis Ners 2009)

AFTA 2010: Sebuah Peluang atau Penghalang?

Hembusan angin 2010 telah kita rasakan. Hal ini tentunya mengingatkan kita akan issue mengenai pasar bebas yang akan berlangsung di tahun ini. Tidak hanya barang-barang yang bebas berdatangan dari luar, tetapi juga manusia yang membawa keahlian masing-masing yang akan ikut berdatangan. Salah satunya adalah perawat.

Tidak ada yang menyangkal bahwa keperawatan di Indonesia, Makassar khususnya, bagai jamur di musim hujan. Tumbuh subur, cepat, dan mudah. Ketika mengelilingi Kota Daeng ini, kita akan dengan mudahnya menemukan institusi keperawatan. Mulai dari STIKES sampai AKPER. Mulai dari diploma sampai strata. Mulai dari yang terakreditasi sampai yang tidak.

Entah harus berbangga diri atau tidak melihat kenyataan ini. Sehingga bisa dibayangkan berapa banyak lulusan keperawatan yang akan bertebaran tiap tahunnya. Padahal kita sadari betul bahwa yang dilihat dari lulusan itu bukan kuantitas, tetapi kualitasnya.

Dalam sebuah acara talkshow yang diselenggarakan oleh Penerbit Erlangga, Jum’at, 5 Juni 2010 di Pajetan Village, dihadiri oleh Ketua Umum Pengurus Pusat PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia), Prof. Achir Yani S. Hamid, M.N, D.N, Sc, yang juga sebagai pembicara. Beliau menguraikan beberapa kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki perawat Indonesia dalam menghadapi keperawatan global. Berikut uraiannya:

à Perawat/ners adalah anak bangsa dan juga merupakan aset bangsa yang mampu menyumbang keharuman bangsa Indonesia melalui tenaga perawat profesional yang mampu bekerja dalam lingkup nasional dan internasional, yang sekaligus menyumbang devisa negara.

à Perawat/ners perlu diberdayakan melalui sistem yang diakui secara nasional dan internasional sesuai dengan MRA (Mutual Recognition Arrangement). Sehingga dapat memanfaatkan peluang kerja di mancanegara karena adanya sistem regulasi dan perawat yang memiliki kompetensi yang kompetitif.

à Sistem keperawatan yang diakui secara internasional yang sekaligus juga mengatur peningkatan kualitas pelayanan keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan adalah adanya sistem regulasi melalui Undang Undang Keperawatan.

à Undang Undang Keperawatan yang memerintahkan adanya Konsil Keperawatan Indonesia (Badan Regulatori yang Independen) inilah yang berwenang untuk melakukan uji kompetensi dan registrasi serta pengesahan berbagai standar profesi di Indonesia.

à Peran Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai organisasi profesi dan anggota ICN (International Council of Nurses) untuk mendorong terus pengesahan UU Keperawatan dengan alasan pentingnya UU Keperawatan untuk segera disahkan.

Melihat uraian kompetensi-kompetensi di atas dan membandingkan dengan keadaan tenaga perawat di Indonesia, sangat wajar memang jika banyak perawat yang merasa terancam akan persaingan bebas ini. Perawat luar dengan berbagai kompetensi dan telah mendapat pengakuan secara internasional jelas dapat dengan mudah menyingkirkan perawat Indonesia. Yang akan terjadi adalah perawat kita akan menjadi ‘tamu’ di ‘rumah’ sendiri.

Salah satu poin penting yang sempat disebut di atas adalah adanya Undang Undang Keperawatan. Dimana dalam undang-undang ini yang ditekankan adalah perlindungan terhadap publik serta memberikan batasan tertentu akan tugas perawat di pusat pelayanan.

Berbagai usaha telah dilakukan dalam upaya menggodok pengesahan undang-undang tersebut. Bahkan baru-baru ini, Badan Pengurus Harian Himpunan Mahasiswa Ilmu Keperawatan Unhas mengadakan talkshow terkait pengawalan pengesahan UU Keperawatan. Dalam talkshow tersebut dihadiri oleh anggota komisi IX DPR RI, Hj. Ledia Hanifa dan Sekretaris PPNI Pusat, Harif Fadhillah, S.Kp., S.H.

Kesimpulan yang diperoleh dari talkshow tersebut adalah bahwa prolegnas UU Keperawatan terus mengalami peningkatan. Namun tetap saja tidak diperoleh kejelasan apakah akhirnya UU Keperawatan bisa disahkan atau tidak. Padahal telah ditekankan bahwa undang-undang ini justru lebih mengutamakan kepentingan pasien.

Pemerintah selama ini hanya berkonsentrasi pada masalah-masalah yang dihadapi negara ini. Padahal sebuah solusi telah dihadirkan tapi tetap saja dipandang sebelah mata. Bagaimana nasib profesi ini ke depannya?

Melihat kurangnya perhatian pemerintah akan profesi keperawatan, kita memang perlu berjuang dengan tangan dan cucuran keringat sendiri. Terus mengasah kemampuan diri dan tentu saja terus berjuang dalam upaya menggolkan pengesahan UU Keperawatan. Hingga pada akhirnya globalisasi perawat menjadi sebuah peluang besar bagi kita untuk membuktikan bahwa kita masih lebih baik dari perawat luar.

Pertanyaan yang akan timbul untuk kita cari jawabannya bukanlah siapkah kita menghadapi globalisasi ini, tapi maukah kita mempersiapkan diri untuk menghadapinya?

Hidup mahasiswa keperawatan!!!

Hidup perawat!!!

Jayalah Indonesia!!!

(Juara II lomba essay dalam rangka memperingati ultah HIMIKA FK UH ke-9)

Cindy Rela

Gadis manis ini tidak pernah menyangka kalau hidupnya akan seperti di sinetron-sinetron yang tiap hari dia tonton. Sinetron yag sarat akan kekerasan yang dilakukan ibu tiri dan anak-anaknya. Semenjak ayahnya meninggal, hidupnya kini berubah 540o. Dulu, ketika ayahnya masih bisa bernapas, hidupnya sangat sempurna. Dikelilingi orang-orang yang menyayanginya, bergelimangan harta, dan segala sesuatunya berjalan sesuai keinginannya.

Kini, semua kesenangan itu sirna sudah. Ikut bersama ayahnya yang kini terbaring di tanah berukuran 2X1 m. Bahkan ibu tiri dan saudara-saudara tiri yang dulu sayang sama dia kini berubah menjadi monster yang siap menghantui hari-harinya. Kini ia sadar, bahwa rasa sayang mereka itu palsu. Kini bulu yang sesungguhnya telah ditampakkan. Bukan lagi bulu kelinci yang halus dan lembut, tapi bulu serigala yang kasar.

”CINDY.....” raungan menggema di seluruh sisi rumah yang sangat luas dan megah itu. Masih pagi-pagi buta, ibu tirinya sudah mulai mengamuk. Cindy yang sedang mengepel seluruh lantai yang terbuat dari marmer itu mau tidak mau, senang tidak senang harus menghentikan kerjaannya dan bergegas ke kandang singa betina.

”Ada apa ibu?” tanyanya sedikit takut begitu tiba di kamar ibunya.

”Kamu tidak dengar penjual sayur lewat depan rumah? Pagi-pagi mestinya kamu sudah menyiapkan sarapan untuk kami. Jangan-jangan kamu baru bangun tidur malah.”

”Eh...ehm....tidak bu. Tadi saya lagi mengepel lantai rumah.”

”Siapa yang suruh kamu ngepel? Kan jadwal kerja kamu sudah ada. Ngepel mestinya jam 7, setelah sarapan siap.”

”Iya ibu. Cindy hapal jadwalnya. Tapi tadi lantainya kotor, jadi saya bersihkan dulu.”

”Kamu harus disiplin jadi orang. Kalau memang jadwal ngepel jam 7, apapun yang terjadi kamu kerjainnya jam segitu juga. Sudah sana, beli sayur. Ntar Komar keburu pergi.”

Bak robot yang dikuasai remotenya, Cindy pun bergegas ke depan untuk menemui penjual sayur langganannya. Di sana, Bang Komar sudah menanti dengan senyum super fresh, mengalahkan segarnya sayurannya pagi itu.

”Mau beli sayur apa, Dinda?”

”Cindy, Bang. Namanya saya Cindy. Bukan Dinda.”

Mendengar komentar Cindy, senyum Bang Komar agak layu.

Nih gadis cantik-cantik lemot juga, pikirnya.

”Itu panggilan sayang, Dinda.”

Geli sebenarnya Cindy berhadapan dengan Bang Komar. Satu-satunya penjual sayur yang eksis di kompleksnya. Kalau saja ibunya tidak sekejam dan seganas predator yang tidak makan selama seabad, dia tidak akan mau bertemu dengan Bang Komar walau sedetik. Siapapun yang melihat tingkah Bang Komar ketika berhadapan dengan Cindy pasti jadi imut (ingin muntah, maksudnya). Muka ala tukang sayurnya sok diimut-imutkan kayak Lee Min Hoo.

”Dinda baik-baik saja di rumah?” tanyanya sok perhatian.

”Cindy baik-baik aja kok. Meskipun ibu kadang-kadang marah kalau Cindy salah.”

”Ah, Dinda jangan bo’ong deh ma Abang. Bu Meisya jahat kan sama Dinda? Semisal suatu hari Dinda sudah tidak tahan tinggal dengan iblis betina itu, ikut sama Abang aja. Dijamin hidup Dinda bahagia dan tidak sembelit.”

”Bang Komar bisa aja deh. Sejahat apapun ibu, Cindy rela kok. Biar bagaimanapun, dialah satu-satunya keluarga yang Cindy miliki saat ini.”

Entah kenapa senyum Bang Komar yang selalu mengembang kayak brokoli tiba-tiba menjadi layu.

”Ya sudah, Dinda. Abang pergi dulu. Jangan lupa telpon Abang kalau kamu mau minggat.”

”Cindy Bang, bukan Dinda.”

Cindy masih ingat bagaimana cara Bang Komar memberikan nomor HP ke dia. Kacang panjang yang biasanya diikat pake tali rapia atau karet gelang waktu itu Bang Komar bungkus pakai kertas kayak ikan kering. Yang usut punya usut memunculkan angka-angka sial, alias nomor HP Bang Komar.

Ibu tiri Cindy makin menggila. Ketiga pembantu di rumahnya dinonaktifkan. Otomatis pekerjaan yang dipikul Cindy makin banyak dan berat. Cindy tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa bertahan dengan segala apa yang menimpanya. Ia jadi menyesal kenapa dulu ia sangat suka dengan kisah Cinderella. Lambat laun ia merasa telah berubah menjadi Cinderella. Menjadi pembantu di rumah sendiri.

Hasratnya ketika kecil ingin menjadi seperti Cinderella karena ingin memiliki sepatu kaca dan ibu peri yang senantiasa menemaninya. Dan karena kecantikan dan kelembutan hatinya ia mampu membuat seorang pangeran bertekuk lutut mengharap cintanya. Tapi yang terjadi justru hanya bagian terburuk di kehidupan seorang Cinderella. Meski begitu, Cindy tetap berusaha menerima jalan hidupnya ini.

Ia juga rela kalau suatu saat yang datang ke rumahnya bukan seorang pangeran gagah perkasa berkuda putih, tapi abang penjual sayur bersenyum brokoli. Tidak...tidak...tidak. Cindy menarik kembali kepasrahannya. Ia tetap setia menunggu pemuda dengan karakter sama dengan pangeran impiannya. Meskipun Bang Komar mengancam akan bunuh diri dengan memakan semua sayur jualannya dalam sedetik.

”Buat masakan super spesial karena hari ini akan datang tamu super spesial juga.” hardik Bu Meisya.

Cindy hanya bisa melaksanakan semua perintah ibunya tanpa babibu. Khawatir nantinya dia yang dijadikan menu utama. Segeralah dia mengolah bahan-bahan makanan yang telah dia beli. Mengeluarkan segala kemampuan memasaknya untuk bisa menyajikan apa yang diminta sang ibu tiri. Untungnya, urusan menyiapkan dan merapikan alat-alat makan diambil alih oleh kedua saudara tirinya.

Untuk pencuci mulut, Cindy harus ke toko yang jaraknya kurang lebih 200m dari rumahnya. Sesuai pesanan ibunya, dia membeli puding. Sampai di rumah, ternyata tamu yang dinanti telah datang. Di halaman rumahnya, ada Baleno putih parkir dengan gagahnya. Imajinasi Cindy kambuh lagi. Dilihatnya Baleno itu adalah kuda putih dengan kereta di belakangnya. Belum sempat berimajinasi lebih tinggi lagi, seorang nenek sihir tiba-tiba berdiri di samping kuda putih yang langsung berubah jadi mobil kembali.

”Kenapa bengong di situ? Cepat masuk!” hardik ibunya.

Di meja makan yang berbentuk persegi panjang telah berjejer berbagai masakan buatan Cindy. Mulai dari makanan berjenis appetizer, main menu, hingga dessert. Semuanya benar-benar menggugah selera. Di kedua ujung meja duduk ibu Meisya dan seorang lelaki paruh baya. Cindy sendiri duduk di sebelah kiri ibunya berhadapan dengan kakak tirinya. Di sampingnya masih tersisa satu kursi kosong. Mau tidak mau ia menanti kedatangan orang yang akan duduk di sampingnya. Sebab, di depan kursi itu ada piring dan berbagai perlengkapan makan tertata rapi. Yang berarti bahwa kursi itu akan ada penghuninya. Acara makanpun dimulai.

”Bagaimana rasanya Pak John?” tanya ibu Meisya.

”Seperti masakan chef restauran mahal.”

Ibu Meisya tersenyum penuh kemenangan kemudian berkata, ”Tenang saja, masakan seperti ini akhirnya akan menjadi menu sehari-hari pak John.”

Glek. Makanan yang baru saja ditelan Cindy seakan parkir di tenggorokannya. Apa maksud perkataan ibunya tadi. Apakah ibunya akan menjualnya ke om-om pecinta makan ini? Ataukah hanya sekedar jadi tukang masaknya? Cindy sudah memikirkan kemungkinan terburuk yang akan ibunya lakukan terhadapnya ketika kursi di sampingnya berdecit. Dia menoleh.

Oh my gosh. Pria muda, tampan, nan kinclong kini bertengger dengan gagahnya di kursi yang dari tadi kosong. Siapa gerangan dia? Pangeran dari negeri khayalannya kah?

”Nah, Cindy. Lelaki yang baru datang adalah anak pak John. Namanya Adit. Dia adalah calon suamimu. Pilihan almarhum Ayah kamu.”

Ibunya kemudian menjelaskan segalanya panjang kali lebar kali tinggi. Selama ini sikapnya berubah jadi galak agar Cindy tidak terbiasa dimanja. Menyuruhnya mengerjakan segala pekerjaan rumah, dari membersihkan rumah hingga memasak agar kelak ketika waktunya sudah tiba dia akan siap menjadi ibu rumah tangga yang baik.

”Sungguh, ibu sangat tersiksa kalau mesti teriak tiap pagi nyuruh kamu ini-itu. Tapi ini adalah amanah dari ayah kamu.”

”Kalau memang semuanya demi kebaikan Cindy, Cindy rela kok. Cindy yakin, apapun yang dilakukan Ayah adalah yang terbaik. Terima kasih karena Ibu sudah berusaha sekuat tenaga melaksanakan perintah Ayah.”

”Trus, Bang Komar mau dikemanakan?” celetuk kakak Cindy

Seisi rumah tiba-tiba gaduh oleh tawa.

Di tempat yang lain, Bang Komar tersedak saat menelan sayur kacang panjang buatannya sendiri.

”Semoga Dinda Cindy baik-baik saja di sana.”

(Juara III dalam Pena Award 2010)

Jatuh Cinta

Perasaan ini tak dapat ku anamnesis

Ketika namamu berdesis

Aku berteriak sebagai katarsis

Menjelma menjadi makhluk narsis

Raga ini kuat meski anoreksia

Mata ini bercahaya meski insomnia

Wajah ini berseri meski anemia

Ingatan ini tajam meski amnesia

Kurasakan di dada ini ada vibrasi

Ku yakin kau dan aku telah terfiksasi

Meski waktu bereinkarnasi

Kau tetap mendominasi

Ners....

Perawat.....

Suster.....

Whatever

Tapi satu hal yang pasti

I love you forever

(Juara 3 dalam lomba Penulis Ners)